Sel tunggal mampu belajar melalui pengalaman yang diterimanya dari lingkungan dan menciptakan memori sel, yang diwariskan kepada keturunannya. misalnya, ketika ada vitus cacar yang menginfeksi seorang anak, sel imun yang masih imatur dikeluarkan untuk membentuk protein antibodi guna melindungi diri dari virus tersebut. dalam prosesnya, sel itu harus menciptakan gen yang berfungsi sebagai cetak biru (blueprint) penghasil protein antibodi cacar.
Langkah pertama untuk menghasilkan gen antibodi cacar yang spesifik terjadi di dalam nukleus-nukleus sel imun yang masih imatur. Di antara gen-gen terdapat sejumlah besar segmen DNA yang mengkodekan bagian-bagian unik protein. Dengan secara acak mengabungkan dan merekombinasikan segmen-segmen DNA ini, sel-sel imun tersebut menghasilkan beragam gen yang masing-masingnya kemudian mengkodekan protein antibodi khusus. ketika satu sel imun yang masih imatur memproduksi satu protein antibodi, yang kemudian menjadi komplemen dari virus cacar yang menyerang. Sel tersebut akan segera aktif menjalankan fungsinya.
Sel-sel yang telah aktif tersebut kemudian menggunakan mekanisme menakjubkan yang disebut affinity maturation, yang memungkinkan sel secara sempurna "menyesuaikan" bentuk final dari protein antibodinya, sehingga ia bisa menjadi komplemen yang sempurna bagi virus cacar yang menyerang. Melalui proses yang disebut somatic hypermutation, sel-sel imun yang telah aktif tersebut membuat ratusan salinan antibodi gen aslinya. akan tetapi, setiap versi salinan baru gen tersebut mengalami sedikit mutasi, sehingga ia melakukan pengkodean yang sedikit berbeda dari protein antibodi yang dimiliki gen induknya. Sel tersebut meneleksi bermacam-macam gen yang diharapkan mampu menghasilkan antibodi terbaik. Versi gen yang terpilih ini juga melalui rentetan mekanisme somatic hypermutation yang berulang-ulang kali untuk menyempurnakan bentuk antibodinya sehingga ia bisa menjadi komplemen yang "sempurna" bagi virus cacar
Ketika antibodi itu mengunci virtus, ia menonaktifkan virus itu dan menandainya untuk dihancurkan sehingga si anak terlindungi dari amukan cacar. Sel-sel mempertahankan "memori" genetik dari antibodi ini, sehingga di kemudian hari jika individu itu terpapar cacar lagi, sel-sel tersebut dapat langsung meluncurkan respons imun pelindung. Memori antibodi gen ini kemudian diwariskan ke semua keturunan sel tersebut ketika ia melakukan pembelahan diri. Sifat menakjubkan rekayasa genetik ini sangat penting karena mewakili mekanisme "intelegensia" bawaan yang digunakan untuk berkembang
Langkah pertama untuk menghasilkan gen antibodi cacar yang spesifik terjadi di dalam nukleus-nukleus sel imun yang masih imatur. Di antara gen-gen terdapat sejumlah besar segmen DNA yang mengkodekan bagian-bagian unik protein. Dengan secara acak mengabungkan dan merekombinasikan segmen-segmen DNA ini, sel-sel imun tersebut menghasilkan beragam gen yang masing-masingnya kemudian mengkodekan protein antibodi khusus. ketika satu sel imun yang masih imatur memproduksi satu protein antibodi, yang kemudian menjadi komplemen dari virus cacar yang menyerang. Sel tersebut akan segera aktif menjalankan fungsinya.
Sel-sel yang telah aktif tersebut kemudian menggunakan mekanisme menakjubkan yang disebut affinity maturation, yang memungkinkan sel secara sempurna "menyesuaikan" bentuk final dari protein antibodinya, sehingga ia bisa menjadi komplemen yang sempurna bagi virus cacar yang menyerang. Melalui proses yang disebut somatic hypermutation, sel-sel imun yang telah aktif tersebut membuat ratusan salinan antibodi gen aslinya. akan tetapi, setiap versi salinan baru gen tersebut mengalami sedikit mutasi, sehingga ia melakukan pengkodean yang sedikit berbeda dari protein antibodi yang dimiliki gen induknya. Sel tersebut meneleksi bermacam-macam gen yang diharapkan mampu menghasilkan antibodi terbaik. Versi gen yang terpilih ini juga melalui rentetan mekanisme somatic hypermutation yang berulang-ulang kali untuk menyempurnakan bentuk antibodinya sehingga ia bisa menjadi komplemen yang "sempurna" bagi virus cacar
Ketika antibodi itu mengunci virtus, ia menonaktifkan virus itu dan menandainya untuk dihancurkan sehingga si anak terlindungi dari amukan cacar. Sel-sel mempertahankan "memori" genetik dari antibodi ini, sehingga di kemudian hari jika individu itu terpapar cacar lagi, sel-sel tersebut dapat langsung meluncurkan respons imun pelindung. Memori antibodi gen ini kemudian diwariskan ke semua keturunan sel tersebut ketika ia melakukan pembelahan diri. Sifat menakjubkan rekayasa genetik ini sangat penting karena mewakili mekanisme "intelegensia" bawaan yang digunakan untuk berkembang
Komentar
Posting Komentar